Blog

  • Bupati Musa Ahmad Serahkan Bantuan Rehabilitasi 7 Jembatan di 3 Kecamatan

    Bupati Musa Ahmad Serahkan Bantuan Rehabilitasi 7 Jembatan di 3 Kecamatan

    LAMTENG – Bupati Lampung Tengah Musa Ahmad melakukan penyerahan bantuan rehabilitasi dan rekontruksi 7 jembatan pasca bencana di Kecamatan Bangun Rejo , Kalirejo dan Sendang Agung bertempat di Ruang BJW Nuwo Balak, Senin (23/5).
    Dalam Kesempatan tersebut hadir Kepala BPBD, Camat Bangun Rejo, Kalirejo, Sendang Agung juga Kepala Kampung.
    Dalam Laporannya Kepala BPBD Makmuri menjelaskan, kampung yang mendapatkan bantuan adalah Kampung Sidodadi, Kampung Sidoluhur, Kampung Watu Agung, Kampung Agung Timur dan Kampung Sendang Rejo.
    “Adanya laporan kejadian akan bencana dari pihak aparatur kampung. Kerusakan karena adanya bencana banjir langsung ditindak lanjuti oleh BPBD dan Pihak terkait dan Langkah yg telah di lakukan BPBD, Dinas Terkait dan tim tekhnis telah melakukan survei terlebih dahulu dan layak atau tidak di rehabilitasi dan rekontruksi,” ungkapnya.
    Bupati Lampung Tengah Musa Ahmad dalam arahannya mengingatkan, kepada Aparatur Kampung untuk melaksanakan dengan baik pembangunan fasilitas umum tersebut, hal tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam Pembangunan juga perbaikan Fasilitas Umum.
    “Kami harap perbaikan tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dana perbaikan dan rekontruksi tersebut telah di transfer ke rekening masing masing kampung untuk di pergunakan dengan baik,” pungkasnya. (str/din)

  • Wagub Chusnunia Ajak para Kepala Kampung di Lampung Tengah Jadikan 2022 sebagai Tahun Kebangkitan Pembangunan Pasca Pandemi Covid-19

    Wagub Chusnunia Ajak para Kepala Kampung di Lampung Tengah Jadikan 2022 sebagai Tahun Kebangkitan Pembangunan Pasca Pandemi Covid-19

    LAMPUNG TENGAH —– Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik) mengajak para Kepala Desa/Kampung di Kabupaten Lampung Tengah menjadikan 2022 sebagai tahun kebangkitan pembangunan di desa pasca pandemi Covid-19.

    Hal itu disampaikan Wagub saat menjadi Narasumber Workshop Evaluasi Pengelolaan Keuangan dan Pembangunan Desa Tahun 2022 pada Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah di Gedung Sesat Agung, Nuwo Balak, Gunung Sugih, Senin (23/5/2022).

    Kegiatan ini dihadiri para Camat dan Kepala Desa/Kampung se- Kabupaten Lampung Tengah secara langsung maupun virtual.

    Nunik mengatakan anggaran dana desa yang sebelumnya untuk penanganan Covid-19, ke depan diharapkan dana tersebut kembali untuk pembangunan prioritas di desa.

    “Diharapkan tahun 2022 menjadi tahun kebangkitan ekonomi kita. Semoga ke depan dana desa sudah mulai bisa kembali untuk pembangunan desa seperti infrastruktur dan untuk kesejahteraan masyarakat” ujar Wagub.

    Adapun narasumber lainnya pada workshop tersebut yaitu Anggota DPR RI Marwan Cik Hasan, Wakil Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya dan Kepala BPKP Perwakilan Provinsi Lampung Sumitro.

    Selanjutnya, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Lampung M. Dody Fachrudin dan dari Kemendes PDTT Andrey Ikhsan Lubis.

    Nunik menyebutkan Pemerintah Provinsi Lampung sendiri terus berkomitmen menghadirkan program-program untuk kemajuan desa salah satunya Smart Village.

    “Akibat Covid-19 semua sektor terkena dampakanya termasuk didesa, namun Insha Allah ditahun mendatang kami terus berkomitmen untuk bisa memaksimalkan pembangunan di desa-desa,” katanya.

    Untuk itu, Nunik mendorong Kepala Desa/Kampung sebagai ujung tombak pembangunan di desa untuk terus bersinergi dan berkolaborasi baik bersama Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten menghadirkan kebaikan dan kesejahteraan di desa.

    Menurutnya, desa juga menjadi poin penting kaitannya dengan pembangunan nasional.

    “Sehingga bisa terwujud apa yang dinamakan Indonesia Maju, Lampung Berjaya,” ujarnya.

    Namun, Nunik menekankan para Kepala Desa untuk terus berhati-hati dalam pengelolaan dana desa seperti tertib administrasi agar tidak terlibat kedalam masalah hukum.

    Menurutnya, OPD di Kabupaten terkait seperti Bappeda bisa untuk terus memberikan bimbingan kepada tim teknis yang ada di desa terhadap menyusun anggaran yang tepat.

    “Agar kepala desa bisa nyaman dan aman dalam bekerja membangun desanya,” katanya.(Adpim)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Pengembangan Sumber Daya Perikanan Rajungan, Gubernur Arinal Berharap Program Photovoices Tingkatkan Kapasitas Perempuan Nelayan Lampung

    Pengembangan Sumber Daya Perikanan Rajungan, Gubernur Arinal Berharap Program Photovoices Tingkatkan Kapasitas Perempuan Nelayan Lampung

    BANDAR LAMPUNG —– Gubernur Lampung Arinal Djunaidi membuka acara Pameran dan Diskusi Program Photovoices yang diadakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Lampung di Hotel Sheraton, Senin (23/5/2022).

    Acara ini megusung tema “Perempuan Nelayan Lampung Dorong Perikanan Rajungan Lestari” dimana Kampung Kuala Teladas dan Kampung Sungai Burung, Kabupaten Tulang Bawang menjadi objek pameran foto tersebut.

    Gubernur Arinal menganggap program photovoices yang dilakukan mitra Komite Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (KPPRB) yaitu Coral Triangle Center dan Photovoices International merupakan pendekatan yang unik dan inovatif sebagai bagian dari pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan.

    Ia juga mengatakan beberapa program yang telah dilakukan seperti pengembangan dan peningkatan kapasitas perempuan nelayan di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur dan Tulang Bawang merupakan contoh nyata kolaborasi banyak pihak yang bisa diadopsi oleh sektor-sektor lainnya.

    “Program yang diprakarsai oleh Photovoices Internasional, Coral Triangle Center dan Mitra Bentala dengan dukungan KPPRB Lampung sangat menarik sebagai wadah untuk menginspirasi perempuan sebagai pembawa perubahan positif dalam pengelolaan sumber daya perikanan rajungan di Provinsi Lampung,” ujarnya.

    Gubernur Arinal menganggap program ini penting untuk dilakukan, pasalnya stok sumber daya rajungan di Provinsi Lampung saat ini semakin mengalami tekanan yang tinggi karena disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya.

    “Diantaranya akibat penangkapan ikan secara berlebihan atau overfishing, limbaj domestik atau rumah tangga, pencemaran, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan sebab lainnya,” ujar Gubernur Arinal.

    Gubernur Arinal mengatakan bahwa Provinsi Lampung memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar sehingga menjadi penggerak perkonomian masyarakat termasuk komoditas perikanan rajungan.

    “Perikanan rajungan telah mendukung mata pencaharian bagi lebih dari 4.000 nelayan dan 1.000 orang lainnya, yang mayoritas perempuan berkerja sebagai pemilah dan pengolah rajungan,” lanjutnya.

    Perlu diketahui, berdasarkan data Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Provinsi Lampung menunjukan ekspor rajungan pada tahun 2021 mencapai 1.578 ton dengan nilai 36,91 juta US dollar.

    Nilai tersebut meningkat 50,8% dibandingkan dengan tahun 2020 sebesar 23,83 juta US dollar dengan volume 1.383 ton.

    Berdasarkan data tersebut, Gubernur Arinal berpendapat bahwa hal tersebut menunjukan perikanan rajungan merupakam komoditas yang dapat diandalkan untuk menopang mata pencaharian masyarakat, tidak hanya nelayan namun juga seluruh rantai nilai yang terkait.

    Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur terkait yang telah terlibat mendukung program ini dan berharap program ini dapat mewujudkan pengelolaan perikanan berkelanjutan di Provinsi Lampung demi nelayan Lampung Berjaya dengan mengutamakan terobosan, pengembangan industri hilir dan ekonomi kreatif.(Adpim)

  • Sekprov Lampung Minta Pj. Bupati Tubaba Zaidirina Terus Membangun Daerah

    Sekprov Lampung Minta Pj. Bupati Tubaba Zaidirina Terus Membangun Daerah

    Cakralampung.com – Sekprov Lampung Ir. Fahrizal Darminto meminta Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) DR. Zaidirina, SE.,M.Si untuk tetap menjaga momentum pembangunan dan pelayanan publik yang sudah ada di daerah Bumi ragemsai mangei wawai.

    ” Momentum pembangunan dan pelayanan publik yang sudah ada harus terus dijaga jangan berhenti, ASN juga harus terus berkomitmen memberikan pelayanan publik yang baik,” kata Sekprov Fahrizal mewakili Gubernur Lampung Ir. Arinal Djunaidi dalam sambutannya pada acara pengantar tugas Pj. Bupati Tubaba dan pengarahan Gubernur Lampung, Senin (23/5) diruang rapat utama Bupati Tubaba.

    Lebih lanjut dikatakannya, bahwa efektivitas sinergi menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan tugas Pj. Bupati. Dan janji kita sebagai masyarakat Lampung adalah merawat Lampung kita.

    ” Sinergi itu harus efektif, tidak boleh kendor, karena tugas penjabat Bupati itu sama dengan tugas Bupati hasil pilkada,” imbuhnya.

    Pemeliharaan hasil-hasil pembangunan dari Bupati sebelumnya harus dipelihara lanjut Sekprov Fahrizal, karena hasil pembangunan itu adalah sah milik pemerintah yang menggunakan uang rakyat.

    Sementara itu, Pj. Bupati Tubaba DR. Zaidirina, SE.,M.Si dalam sambutannya mengatakan, percepatan perluasan akses serta pemerataan pembangunan akan menjadi fokus dengan memperhatikan harapan perubahan di Tubaba, meski pembangunan Tubaba sudah sangat baik dan maju dibawah pimpinan terdahulu Bupati Umar Ahmad dan Fauzi Hasan.

    ” Saya ini adalah putri dari Tiyuh Panaragan artinya kita akan membangun kampung kita sendiri,” ungkapnya.

    Pantauan dilokasi kegiatan dihadiri oleh Sekprov Lampung, sejumlah kepala dinas Provinsi Lampung, seluruh kepala OPD Tubaba, jajaran Forkopimda, para Camat, Dandim 0412/LU, Wakapolres Tubaba, Kejari Menggal, Ketua DPRD Tubaba, Ketua MUI Tubaba dan undangan lainnya.(snr/asf)

  • Walikota Metro Tunjuk Kadishub menjadi Plt Kadis PUTR

    Walikota Metro Tunjuk Kadishub menjadi Plt Kadis PUTR

    Metro — Pemerintah Kota (Pemkot) Metro menetapkan Kepala Dinas Perhubungan, I Gede Made Suwanda sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR).

    Penetepan tersebut dilakukan pasca ditetapkannya kepala Dinas PUTR, Eka Irianta sebagai tersangka tindakan pidana korupsi (Tipikor), terkait anggaran peningkatan operasional dan pemeliharaan sarana dan prasarana persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tahun anggaran 2020.

    Hal tersebut berdasarkan Surat Perintah Walikota Metro Nomor 821.23/234/Sprint/B-3/03/2022 tentang penetapan Kepala Dinas PUTR.

    Walikota Metro, Wahdi Siradjuddin mengatakan, untuk Kepala Dinas PU yang sedang mengalami kekosongan jabatan, pihaknya telah menetapkan Plt-nya.

    “Sudah ditetapkan Kepala Dinas PU, Bapak Eka secara hukum. Maka saat itulah ditetapkan Plt, Pltnya adalah Pak Made dari Dishub, dengan pertimbangan tim penilai kinerja,” ungkap Wahdi di Kantor Pemerintah Kota Metro, Senin (23/05/2022).

    Dijelaskannya, dengan ditunjuknya I Gede Made Suwanda tidak akan mengurangi kinerjanya yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan.

    “Tentu iramanya yang harus diatur karena sebagai aparatur tentu harus siap dan itulah pertimbangan dari tim kinerja demikian, saya kira itu,” jelasnya.

    Untuk lelang jabatannya, lanjut Wahdi, akan segera dilaksanakan, lantaran dalam waktu dekat terdapat beberapa jabatan pimpinan tinggi pratama (JPTP) yang akan mengalami kekosongan.

    “Untuk lelang berhubungan dengan beberapa jabatan yang akan kosong, tentu juga selain itu kita butuh percepatan. Jadi disatukan aja nanti, sampai Desember. Dan itu terbuka selalu,” paparnya.

    Kemudian, untuk JPTP yang akan kosong tetap diprioritaskan kepada pribumi Metro yang ingin membangun Metro.

    “Untuk prioritasnya, sekali lagi tolong diperhatikan, orang yang punya kompetensi itulah yang diprioritaskan. Yang kedua tentu orang yang mau membangun kota metro. Nah kalau itu orang metro, ya, kenapa tidak,” pungkasnya. (Rendi)

  • Winarti : Kita Pelayan Masyarakat

    Winarti : Kita Pelayan Masyarakat

    Cakralampung. Com – Bupati Tulangbawang, Dr. Hj. Winarti SE., MH menggelar silaturahmi dengan tenaga Honorer di kabupaten Tulangbawang.

    Halal Bihalal dengan Pejabat Tinggi Pratama Pemkab Tulangbawang. Kegiatan silaturahmi itu juga dibarengi dengan penyerahan SK kenaikan pangkat periode April 2022 digelar di Islamic Center Menggala, Senin (23/05/2022).

    Adapun rincian kenaikan pangkat pada periode ini sejumlah 1570 honorer dan 268 PNS golongan IV berjumlah 62, golongan III sebanyak 165, selanjutnya golongan II adalah 39, dan golongan I sebanyak 3 orang.

    Bupati Tulangbawang hadir didampingi para pejabat tinggi pratama di lingkup Pemkab Tulangbawang serta pejabat administrator di lingkup Pemkab setempat.

    Bupati Winarti dalam sambutannya mengucapkan, selamat kepada para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang naik pangkat pada periode ini dan menanamkan dan terus meningkatkan etos serta kualitas kerja.

    “Terus mengabdi dan melayani dengan hati karena tugas serta fungsi ASN adalah melayani masyarakat. Terus berjuang dan melakukan pelayanan terhadap masyarakat dengan baik. Aparatur adalah pelayan masyarakat yang seyogyanya harus melayani dengan sepenuh hati serta profesionalitas,” kata Bupati yang bergelar Pangeran Suri ini.

    Bupati yang akrab di sapa Bunda itu berharap, dengan diberikannya SK kenaikan pangkat itu menjadi barokah untuk aparatur yang ada di kabupaten Tulangbawang.

    “Kepada anak-anak ku pegawai honorer, kalian sangat penting dan menjadi bagian terpenting dalam laju perkembangan pembangunan kabupaten Tulangbawang. Terus semangat bekerja dan berkarya, semoga menjadi ladang barokah untuk keluarga mu,” ucap Bupati. (rls/rds/din)

  • SDN 01 Rantau Jaya Baru, Putra Rumbia Persiapkan Ujian Praktek

    SDN 01 Rantau Jaya Baru, Putra Rumbia Persiapkan Ujian Praktek

    Cakralampung.com – Saat ini, SDN 01 Rantau Jaya Baru, Kecamatan Putra Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng),mempersiapkan pelatihan untuk Ujian Pratek Kelas Vl.

    Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah (Kepsek) Hujaenah, S.Pd SD, kepada Cakra Lampung di ruang kerjanya, Senin (23 Mei 2022).

    Hujaenah mengatakan bahwa, untuk murid-murid kelas Vl SDN 01, di didik sebaik mungkin sesuai kemampuan guru yang ada di SDN 01 Rantau Jaya Baru, terkhususnya dalam menghadaoi ujian praktek.

    Kepsek Hujaenah, S.Pd SD

    Hal ini dilakukan agar setelah lulus menjadi murid yang cerdas dan menjadi contoh yang baik bagi murid-murid yang lain. Baik di luar sekolah maupun di dalam sekolah.

    “Kita berharap hasil ujiannya dapatkan nilai yang baik, ” Katanya.

    Senada dikatakan Saptabudi Pramana, S. pd., yang sedang melatih pasing volleyball kepada murid-murid kelas Vl SDN 01 Rantau Jaya. Dikatakannya pelatihan ini guna meningkatkan kemampuan dasar dalam mengolah bola didalam permainan volleyball.

    “sering di lakukan perlatihan di saat jam olahraga, ” Ujarnya.

    “Semoga rutinnya praktek ini untuk kelas Vl bisa menghasilkan maksimal ujian yang sangat baik, dan menjadikan motivasi bagi adik adik kelas mereka, ” Tutup dia. (hjd/asf)

  • Pj. Bupati Zaidirina Pimpin Apel Perdana ASN Pemkab Tubaba

    Pj. Bupati Zaidirina Pimpin Apel Perdana ASN Pemkab Tubaba

    Cakralampung.com – Hari pertama bekerja sebagai Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Tulang bawang Barat (Tubaba) DR. Zaidirina, SE.,M.Si memimpin apel perdana Pemkab Tubaba dan langsung bertindak sebagai Inspektur upacara, Senin (23/5) di halaman Kantor Bupati Tubaba.

    Dalam amanatnya, Pj. Bupati Zaidirina mengingatkan para ASN harus bekerja sesuai aturan dan tetap menjaga kedisiplinan pegawai.

    ” Terimakasih kepada seluruh peserta apel yang dapat hadir pada pagi hari ini, semoga dedikasi dan tanggung jawabnya dapat terus dijaga. Saya lihat ini luar biasa semangatnya untuk mengikuti apel, mudah-mudahan sampai seterusnya seperti ini,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, dikatakannya bahwa, Gubernur Lampung telah mempercayakan dirinya sebagai Pj. Bupati Tubaba. Penunjukan tersebut merupakan pemenuhan atas ketentuan peraturan perundang-undangan dalam hal pengisian kekosongan jabatan Kepala Daerah dan Wakil Daerah yang habis masa jabatannya pada tanggal 22 Mei 2022.

    ” Syukur alhamdulilah saya dipercaya pak Gubernur, kebetulan saya putri daerah asli dari Tiyuh Panaragan, untuk itu mari kita bersama- sama membangun daerah yang kita cintai ini,” terangnya

    Selanjutnya, Pj. Bupati Tubaba Zaidirina berharap, agar semua pihak dapat bekerjasama, bersinergi dengan baik dalam merealisasikan pembangunan daerah Kabupaten Tubaba yang telah ditetapkan sebelumnya. Perlu ada langkah-langkah yang segera diambil dalam menjaga harmonisasi daerah, menjaga kondusifitas kehidupan mempercepat pelayanan publik dan bermasyarakat.

    ” Pada saatnya nanti, Saya meminta kepada Bapak Sekda dan para Kepala OPD untuk dapat menjabarkan program- program yang telah disusun bersama, sehingga kita semua dapat segera merealisasikan segala hal yang mungkin belum sempat terlaksana sebelumnya,” pungkasnya. (snr/asf)

  • Stop Buang Air Besar Sembarangan

    Stop Buang Air Besar Sembarangan

    Cakralampung.com – Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan.

    Karena, dengan pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan sekitar.

    Hal itu yang digaungkan juga oleh pemerintah kabupaten Tulangbawang melalui Dinas Kesehatan. Gaungan itu merajuk pada keputusan Menteri Kesehatan nomor 852 tahun 2008 tentang strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat.

    Hingga kini sosialisasi terkait ODF juga sudah digaungkan pemerintah daerah ke pelosok-pelosok di Tulangbawang. Namun hingga kini jumlah persentase penyelesaian ODF belum terlihat jelas besar atau kecilnya.

    Menindak lanjuti kegiatan ODF tersebut, Kampung Ujung Gunung Ilir (UGI) juga memprogramkan jamban sehat untuk fasilitas pembuangan tinja yang efektif serta memutus mata rantai penularan penyakit.

    Namun sayangnya, dalam pelaksanaan teknis di lapangan, ternyata kelurahan UGI hanya menyediakan fasilitas bahan berupa WC 1 buah, pipa paralon 4inch, semen 2 sak, besi ukuran 8 yang diterima masyarakat melalui RT setempat.

    Menurut Ketua LSM Cakra Institute, program itu sangat bagus bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Tetapi sangat disayangkan program yang dilakukan itu hanya dibuat setengah-setengah.

    Akibatnya, program tersebut terlihat hanya menghambur-hamburkan uang saja tanpa melihat fungsi, hasil yang efektif dan efisien. Sementara anggaran yang digunakan bersumber dari dana pemerintah.

    “Siapa yang akan bertanggung jawab dan bagaimana mempertanggungjawabkan sebuah program yang tidak diselesaikan. Dari bagaimana perencanaannya, sementara dana anggaran yang dikeluarkan harus dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya,” ungkapnya.

    Ia juga menjelaskan, sanitasi yang sesuai dengan nomenklatur MDGs adalah pembuangan tinja. Sehingga dampak buruk dari bab disembarang tempat mengakibatkan penularan penyakit seperti, Hepatitis A, Polio, Kolera dan beberapa penyakit lain.

    “Sangat disayangkan saat ini kita sedang viral tentang Hepatitis Akut Misterius yang salah satu tempat penularan merupakan bab sembarangan,” tegasnya.

    Disisi lain, Sekretaris Kampung Ujung Gunung Ilir (UGI) Kadek Edi Irawan menjelaskan, berawal dari tingginya angka stunting dikampung UGI maka kami lakukan rapat desa untuk melakukan tindakan guna menekan angka stunting di kampung UGI.

    Ia menuturkan, saat itu penyebab utama tingginya angka stanting disebabkan masih banyaknya masyarakat yang membuang air besar sembarangan tanpa menggunakan WC Kloset.

    “Kampung UGI melakukan pengadaan barang berupa WC, pipa paralon, semen 2 sak dan besi yang diberikan kepada masyarakat di 154 titik melalui RT dengan nama program Pembangunan rehabilitasi peningkatan fasilitas jamban untuk masyarakat,” terang Kadek Edi.

    Dirinya menjelaskan, waktu itu pihaknya hanya memberikan sebatas fasilitas saja dikarenakan keterbatasan anggaran.

    “Akibat keterbatasan itu, Selebihnya kami serahkan kepada masyarakat dan berharap instansi terkait dapat membantu,” tandasnya. (rds/din)

  • Pesta Budaya Sekura Cakak Buah Di Bumi Sekala Brak

    Pesta Budaya Sekura Cakak Buah Di Bumi Sekala Brak

    Oleh : ENDANG GUNTORO CANGGU, SH, MM

    SEBUAH kebudayaan, sejatinya merupakan kristalisasi pemikiran manusia dari hasil adaptasi, interaksi, pencarian, penjelajajahan, imajinasi, permenungan bahkan kadang-kadang penemuan coba-coba terhadap alam, hubungan sesama manusia, dunia abstrak serta dunia transedensi, kebudayaan diciptakan oleh manusia-manusia kreatif untuk mengatasi, menjelaskan dan menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya berkenaan dengan dunia dimana manusia itu berada.

    Artinya, sebuah kebudayaan mestinya menjadi sesuatu yang sangat dekat dengan dunia lahir bathin pemiliknya karena ia terbit dan berakar dari persoalan-persoalan setempat. Jika sebuah kebudayaan mampu bertahan dalam rentang waktu yang panjang, niscaya ia memberikan suatu yang dibutuhkan oleh manusia pemiliknya dan sebaliknya kebudayaan tanpa akar yang kokoh hanya akan menjadikan kebingungan dan keterasingan.

    Sekura adalah satu dari sekian bentuk/hasil kebudayaan kuno di Lampung, menilik nukilan-nukilan inskripsi arkeologi, Sekura telah diwariskan oleh para leluhur orang Lampung ketika negara-negara tradisional yang tercatat dalam sejarah belum lagi lahir. Kita kemudian mahfum.

    Ketika negara-negara tradisional itu runtuh dan berganti dengan negara baru, kebudayaan sekura masih terus bertahan dan menyebar menyatu dengan jiwa masyarakat. Bahkan ketika hasrat membentuk Negara Bangsa yang bernama Indonesia, tidak lagi bisa dibendung, sekura masih terus bertahan dan melanjutkan eksistensinya.

    Sedikit di ilustrasikan tentang Pesta Budaya Sekura, Pesta Budaya Sekura adalah Pesta Budaya Tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri biasanya mulai dari 1 Syawal sampai 6 atau 7 Syawal setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lain. Pesta Budaya Sekura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas theatre luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.

    Sekura dalam kebudayaan ini artinya topeng/penutup wajah (menutup wajah) atau merubah penampilan yang menggambarkan berbagai bentuk sifat dimuka bumi ini tapi dalam pesta sekura ini penggambarannya adalah suasana kegembiraan dan kebebasan berkreasi dan berekspresi dalam kebersamaan berkelompok.

    Pesta Budaya Sekura secara definisi merupakan perayaan dan atau ungkapan kegembiraan masyarakat secara bersama-sama dengan bertopeng (menutup wajah) dan merubah penampilan sedemikian rupa yang sifatnya menghibur serta bertujuan utama bersilaturahim yang berpuncak pada panjat pinang secara berkelompok dengan sistim beguai jejama (gotong royong).

    Sekura secara teknis dibagi 2 kelompok. Yakni, pertama, SEKURA BETIK (Helau), penampilannya helau (indah) lucu, bersih dan sifatnya sebagai penghibur, dengan menggunakan kaca mata gelap dan semua kostum dari kain panjang dan biasanya penutup kepala menggunakan selindang miwang (kain khas sebutan masyarakat Lampung Barat).

    Kemudian pinggangnya juga dipenuhi gantungan kain panjang, banyak atau sedikitnya kain panjang yang dipakai oleh seorang atau kelompok orang yang sedang bersekura menunjukkan banyak atau sedikitnya Muli yang jadi pengikutnya (dalam Kebotnya/kelompoknya) karena kain panjang yang dipakai oleh Sekura tersebut dahulunya adalah hasil pinjaman dari muli-muli yang ada dalam Jukku/Kebot adatnya.
    sekura betik lebih mengarah pada menghibur penonton dengan tingkah mereka yang bebas berekspresi, sekura betik tidak berhak mengikuti panjat pinang, hanya sebagai penggembira.

    Kedua, SEKURA KAMAK (kotor), memiliki penampilan kotor, bisa disebut sebagai juga sebagai “Sekura Calak”. Kamak (kotor) adalah ciri sekura ini yaitu memakai topeng dari bahan Kayu atau dari bahan-bahan alami (tumbuh-tumbuhan) dan atau terbuat dari bahan-bahan yang jelek/bekas yang membaluri tubuh mereka yang akan menjadikan penampilannya menjadi lebih unik dan kotor dengan pakaian aneh dan lucu. Sekura Kamak berhak memanjat pinang yang telah ditentukan, untuk bersaing dan bekerjasama dalam berkelompok untuk mencapai puncak dan menjadi pemenang.

    Menurut cerita para pendahulu kita di Sekala Bekhak, bahwa Budaya Sekura ada sejak masa Kerajaan Sekala Brak, berkisar pada abad 13, dimasa tersebut di lereng gunung pesagi, berdiri kerajaan megah bernama Kerajaan Sekala Brak (Kuno), dipimpin oleh pemimpin terakhir mereka bernama Ratu Sekekhemong (Sekarmong), kerajaan sekala brak menganut ajaran animisme, menyembah sebuah pohon besar, yang dikenal dengan sebutan pohon melasa kepampang.

    Ketika itu masuk 4 Umpu yang datang dari Samudera Pasai, membawa ajaran Agama Islam, ajaran yang lurus dan bertemu dengan Ratu Sekarmong, tentu saja niat dari 4 umpu ditolak mentah-mentah oleh Ratu Sekarmong, namun sebagian dari pengikut Ratu Sekarmong sudah bergabung dengan 4 Umpu dan menganut ajaran Islam, singkat cerita terjadilah perang antara 4 umpu dan para pengikut barunya dengan Ratu Sekarmong dengan bala tentaranya, yang dikenal dengan Perang Sekala Brak.

    Perang ini merupakan perang saudara, karena pengikut 4 umpu merupakan bekas pengikut dari Ratu Sekarmong, dikarenakan mereka bersaudara, maka perang ini menggunakan penutup wajah, agar tidak saling mengenal, penutup wajah (SEKURA), arti dari Sekura itu adalah : penutup wajah, menutup wajah. Menggunakan sekura kayu (topeng yang terbuat dari kayu).
    Perang maha dahsyat yang berlangsung 2 hari 2 malam tersebut berakhir dengan terbunuhnya Ratu Sekarmong yang menandakan runtuhnya Kerajaan Sekala Brak (Kuno), dan berdirinya Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yang ditandai dengan masuknya Islam ke Bumi Lampung.

    Pada fase kepemimpinan 4 Umpu yang berbagi wilayah hak ulayat yaitu Paksi Buay Pernong di Henibung Batu Brak, Paksi Buay Belunguh di Kenali, Paksi Buay Bejalan Diway di Puncak Dalom Kembahang dan Paksi Buay Nyerupa di Tampak Siring Sukau, yaitu fase Kerajaan yang menganut ajaran agama Islam, maka kebudayaan sekura terus dilestarikan namun dengan cara islam, yaitu dijadikan sebuah pesta budaya sebagai ajang silaturahmi dan perayaan kemenangan setelah dijalankan “perang” melawan hawa napsu selama 1 bulan penuh yaitu puasa Ramadhan, pada bulan Syawal dihelat pesta budaya dengan para pesertanya menggunakan penutup wajah (sekura) saling bersilaturahmi dengan riang gembira merayakan kemenangan di Hari Raya.

    Pesta Budaya Sekura dilaksanakan 1 s.d. 6/7 Syawal yang diselenggarakan bergantian dari desa satu ke desa lainnya, di fase ini timbul Sekura Betik yang menggunakan sekura (penutup wajah) dan kain panjang khas Lampung Barat, Kain Selindang Miwang, seluruh tubuh ditutupi dengan kain selindang miwang dan mengenakan kaca mata hitam, sekura betik biasanya mengawal muli-muli (para gadis) untuk ikut menyaksikan pesta budaya sekura, sekura betik sebagai penggembira di pesta budaya ini.

    Sedangkan sekura kamak merupakan jawara dalam pesta budaya sekura dan dipenghujung pesta budaya sekura kamak berhak mendapatkan hadiah yaitu “panjat pinang”, biasanya panitia pelaksana (desa penyelenggara) menyiapkan batang pinang yang berisikan buah-buah berisi hadiah.

    Kini kita beruntung hidup dan menjadi bagian dari masa dimana batas-batas ruang dan waktu menjadi begitu maya akibat pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada masa seperti ini, kita seolah tenggelam dalam aliran deras unsur dan bentuk-bentuk budaya yang akar dan sumbernya antah berantah.

    Tanpa persikafan bijak dan hati-hati terhadap fenomena seperti itu kita akan hanyut kedalam lautan yang membingungkan dan ironi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mestinya mempermudah dan mensejahterakan hidup manusia, bisa berbalik memperbudak dan menghadirkan bencana.

    Pada fase ini Pesta Budaya Sekura menjadi sebuah tradisi yang hamper punah, hamper hilang, sangat mengkhawatirkan, setiap pekon menghelat pesta budaya sekura, namun pesta budaya tersebut hanya berisi pasar tradisional, yaitu para penjual sayuran, penjual baju-baju, seperti pasar mingguan yang pindah tempat, pesta budaya yang nyaris tidak ada peserta sekuranya.

    Sekura timbul ketika akan memanjat buah pinang saja dan inipun dengan mengenakan sekura seadanya, terbuat dari kardus, bahkan hanya mengenakan helm. Ini berlangsung beberapa tahun.
    Maka pada fase ini kami berinisiatif untuk kembali membangkitkan marwah sekura, kami bentuk satu forum yang bernama Dewan Sekura, yang beranggotakan penanggung jawab dari pekon-pekon penyelenggara sekura.

    Maka timbul ide “Sekura Ngelimuk”, Ngelimuk (nyampah, menyebarkan sampah), karena sekura kamak identik dengan penampilan yang kotor dan membawa daun-daunan serta kayu-kayu yang sudah rapuh membaluri tubuhnya.

    Di fase ini sekura menjadi berkelompok, membawa nama pekon nya masing-masing, kalau di fase 1 dan 2 setiap orang yang bersekura bersekura berusaha untuk tidak dikenal oleh orang lain darimana asalnya, maka di fase ini kebalikannya, setiap sekura berusaha untuk dikenal orang lain darimana asalnya, bahkan membawa bendera kebesaran pekon masing-masing.

    “Ngelimuk” bukan tanpa alasan, tapi bertujuan untuk meramaikan lagi peserta sekura dalam helat Pesta Budaya Sekura, karena rombongan sekura dari pekon pengunjung datang ngelimuk di pekon penyelenggara bertujuan agar pekon penyelenggara membalas didatangi dan sekura ngelimuk juga disaat dihelat pesta budaya sekura di pekonnya. Dan trik ini berhasil, kembali meramaikan pesta budaya sekura dan kembalinya marwah pesta budaya sekura.

    Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun sampai datangnya wabah Covid-19. Terhentinya seluruh aktifitas masyarakat termasuk pesta budaya sekura di masa pandemi selama 2 tahun menjadikan kerinduan masyarakat akan pesta budaya ini, dan di tahun 2022.

    Setelah pelonggaran aktifitas oleh pemerintah, maka pesta budaya sekura kita gelar kembali, dengan peserta yang luar biasa ramainya, namun dimasa pasca corona ini terdapat beberapa catatan penting yang harus dipecahkan bersama oleh Dewan Sekura, para Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Unsur Pemerintah Pekon Penyelenggara dan Kecamatan serta unsur Pemerintah Daerah, terjadi kebablasan kebebasan berekspresi dari oknum peserta sekura, dengan tidak mengindahkan tata titi adat, tidak mengindahkan attitude, sopan santun dengan cara berpakaian yang tidak benar, serta helat sekura yang membuat jalan protocol macet sampi berjam-jam, ini akan dibahas detail serta menurut petunjuk Bupati Lampung Barat akan dibuatkan Peraturan Daerah tentang penyelenggaraan Pesta Budaya Sekura Cakak Buah, sebagai dasar penataan tata tertib dan regulasi dari penyelenggaran pesta budaya sekura yang kita cintai ini.

    Semoga dengan dibuatkan regulasi, ditaati dan kita patuhi, maka pesta budaya sekura ini akan terus bisa pertahakankan dan kita helat disetiap tahunnya serta akan menjadi warisan kita kepada generasi yang akan datang, menjadi kebanggaan dan kehangguman kita bersama.

    Kedepan diharapkan pesta budaya sekura bukan hanya sekedar pesta budaya semata, namun juga bisa menjadi ajang sumber pendapatan bagi masyarakat lampung barat dengan segala kreatifitasnya, karena dimasa ini kita bisa melihat para pelaku ekonomi kreatif, pelaku UMKM bisa mendatangkan keuntungan yang fantastis dari helat pesta budaya ini. (rls/edi/asf)